Cerita PLN Bikin Pembangkit Listrik di Atas Tanah Rawa Kalimantan

Cerita PLN Bikin Pembangkit Listrik di Atas Tanah Rawa Kalimantan

Cerita PLN Bikin Pembangkit Listrik di Atas Tanah Rawa Kalimantan

RumahNKRI – Ada tantangan yang berbeda dalam pembangunan pembangkit listrik di Kalimantan Tengah (Kalteng). Lahan yang tersedia di wilayah ini kebanyakan berupa rawa-rawa dan tanah gambut, tanah yang tidak stabil.

Kendala teknis ini membuat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan membutuhkan waktu lebih lama. Misalnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Pulang Pisau di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.

Proyek yang merupakan bagian dari Fast Tracking Project (FTP) di masa lalu ini molor 2 tahun, karena dibangun di atas rawa-rawa. Kontrak untuk pembangunan PLTU Pulang Pisau sudah ditandatangani pada 2010, tapi proyek baru selesai pada 2016.

PLN harus melakukan pematangan lahan, yaitu memadatkan rawa dengan tanah dan pasir, selama 2 tahun agar tanah menjadi padat dan stabil. Setelah tanah sudah cukup kuat, barulah pada 2013 konstruksi bisa dimulai.pln

“Kalau di PLTU Pulang Pisang ini kendalanya yang bikin lama betul-betul masalah lahan. Kontraknya tahun 2010. Proses pematangan lahan, karena ini lahan rawa dan gambut, butuh waktu sekitar 2 tahun. Setelah itu kita membangun mulai membangun mau masuk 2013, bangunnya sekitar 3 tahun,” kata General Manager PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng), Purnomo, saat ditemui di PLTU Pulang Pisau, Selasa (20/12/2016).

PLTU Pulang Pisau terdiri dari 2 unit, tiap unit kapasitasnya 60 megawatt (MW), sehingga totalnya 120 MW. Unit pertama telah beroperasi secara komersial (Comercial Operation Date/COD) pada September 2016. Sedangkan unit keduanya sekarang masih tahap uji coba (commisioning) sebelum beroperasi penuh secara komersial.

Pembangunan PLTU Pulang Pisau 2 x 60 MW memakan biaya Rp 1,5 triliun. Kontraktornya berasal dari China. Anak usaha PLN, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) ditugaskan untuk mengoperasikan dan memelihara pembangkit ini.

“Biaya investasinya sekitar Rp 1,5 triliun. PJB anak usaha PLN yang kami tugaskan untuk mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan pembangkit ini,” tutur Purnomo.

Saat ini total kapasitas pembangkit listrik di Sistem Kalselteng 550 MW, sedangkan beban puncak 530 MW. Jadi cadangan daya (reserve margin) di Sistem Kalselteng hanya 20 MW.

Ada beberapa pembangkit listrik yang kapasitasnya di atas 20 MW, sehingga jika ada gangguan atau pemeliharaan pada salah satu pembangkit itu maka dipastikan terjadi pemadaman bergilir.

Jika unit kedua PLTU Pulang Pisau sudah beroperasi, maka cadangan daya bertambah 60 MW. Dampak positifnya, bila ada salah satu pembangkit yang terganggu atau sedang pemeliharaan tidak akan ada pemadaman bergilir lagi.

“Eksisting kita sudah punya 550 MW, beban puncak 530 MW. Jadi belum aman, cadangannya hanya 20 MW. Pembangkit yang terbesar 65 MW. Kalau pemeliharaan pasti defisit. Kalau PLTU Pulang Pisang yang unit 2 ini sudah masuk, ada pembangkit yang pemeliharaan sudah nggak apa-apa,” tutup Purnomo.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*