Menyambung Asa Anak-anak Korban Banjir di Bima

Menyambung Asa Anak-anak Korban Banjir di Bima

RumahNKRI – Pada awal tahun ini, hampir sebagian besar gedung sekolah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, rusak dan kotor akibat banjir bandang. Namun, berkat dedikasi dan kerja keras para guru, siswa bisa kembali bersekolah dan justru mendapat pelajaran sangat berharga, yakni menjadi manusia yang tahan banting.

Banjir bandang pada Desember 2016 itu menerjang 51 gedung sekolah di Kota Bima yang terdiri dari 25 SD, 17 SMP, dan 9 SMA. Banjir itu menghancurkan pagar dan dinding sekolah serta merendam buku, dokumen sekolah, komputer, dan alat peraga. Bahkan, di beberapa sekolah, berbagai prasarana hanyut dan hilang. Setelah banjir surut, halaman dan ruang-ruang kelas tertutup lumpur tebal.

Di SD Negeri 21 Kota Bima, Jumat (6/1/2017) pagi, halamannya masih becek. Beberapa bangku kayu dijemur karena lama terendam banjir. Halaman itu juga digunakan untuk menjemur buku-buku pelajaran yang masih bisa diselamatkan.

Sebagian besar buku di perpustakaan sekolah ini hancur, terutama yang disimpan di rak buku paling bawah. Buku di rak paling bawah sudah mengeras dan sulit dikeluarkan dari rak. Jika diambil, buku-buku itu tetap tak akan bisa dipakai lagi.

Kepala Sekolah SD Negeri 21 Kota Bima Mustamin mengatakan guru dan warga mulai membersihkan sekolah tiga hari setelah banjir. “Kami harus cepat bersihkan, terutama lumpurnya, karena pada 3 Januari anak-anak sudah harus masuk,” katanya.

Upaya pembersihan itu tidak bisa berlangsung cepat karena semua guru juga jadi korban banjir. Mereka harus mengurusi rumahnya yang rusak. Mustamin bahkan tambah pusing karena mobilnya juga rusak parah.

Meski Mustamin dan guru lainnya juga sedang kesusahan, mereka sepakat untuk bisa hadir di sekolah. Begitu pelajaran semester genap dimulai pada Selasa (3/1), 34 dari 36 guru di sekolah itu siap mengajar. Dua guru lainnya masih sakit. “Kami harus jadi contoh yang baik buat anak-anak,” ujar Mustamin.

Hingga Jumat (6/1), belum semua siswa di SD Negeri 21 bisa datang. Dari 616 siswa, hanya sekitar 200 siswa yang sudah masuk sekolah. Hal yang sama terjadi di SMP Negeri 1 Kota Bima. Dari 937 siswa di sekolah itu, baru 60 persen yang hadir.

“Kami paham banyak siswa yang tak bisa datang, yang penting kami siapkan dulu sekolah ini agar siap dipakai untuk belajar,” kata Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kota Bima Nurmah.

Untuk membersihkan sekolah yang diterjang banjir setinggi 1,5 meter itu, para guru beserta alumni mengeluarkan uang pribadi untuk menutup biaya pembersihan sekolah yang mencapai Rp 20 juta.

Uang itu digunakan untuk memberi upah sekitar 40 orang yang membantu membersihkan sekolah dan pengadaan peralatan untuk pembersihan selama tujuh hari. Nurmah menganggap uang yang sudah dikeluarkan itu sebagai dana talangan karena pemerintah pusat sudah berjanji untuk menggantinya.

Berdiskusi

Setelah pembersihan, sekolah-sekolah di Kota Bima berharap para siswa tidak ragu untuk kembali masuk sekolah. Untuk itu, siswa yang menjadi korban banjir dan kehilangan harta benda diharapkan tetap masuk meski tidak berseragam, bersepatu, atau membawa peralatan sekolah. Kehadiran mereka di sekolah yang terpenting.

Kegiatan belajar-mengajar di sekolah dalam pekan pertama awal ini lebih berupa diskusi. Guru dan siswa saling bertukar cerita tentang banjir yang dialami. Para siswa diharapkan belajar dari pengalaman temantemannya. Dalam diskusi itu, Nurmah juga menayangkan sejumlah video tentang bencana yang terjadi di beberapa negara sebagai bahan diskusi.

“Saya ingin tunjukkan bahwa di negara lain ada bencana yang lebih dahsyat. Saya ingin ajak siswa untuk bersyukur karena banjir di Bima tak menimbulkan korban jiwa. Yang diperlukan saat ini adalah bangkit membangun lagi,” kata Nurmah. Karena itu, para guru, meski menjadi korban banjir, berupaya tampak tegar di hadapan siswanya.

Belasan siswa kelas VI di SD Negeri 21 Kota Bima mengikuti diskusi serupa di luar kelas mereka. “Nah, kalau kalian jadi presiden, apa yang akan kalian lakukan supaya Bima tidak banjir lagi?” tanya Vivi Sumanti (40), guru di kelas itu mencoba memancing diskusi.

“Saya akan bangun bendungan, Bu, biar air tak langsung masuk,” jawab Mia (11) sambil tersenyum. “Kalau saya akan beri bantuan Rp 10 miliar,” teriak Aditya Bagus Pratama (11). Siswa lainnya langsung tertawa mendengar jawaban itu. Canda dan tawa mewarnai jalannya diskusi. Para siswa diajak melupakan rasa takut ketika rumah mereka dilanda banjir hingga setinggi 2 meter.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Bima Alwi Yasin mengatakan, peran sekolah untuk mendampingi anak-anak korban bencana sangat penting. “Sekolah tidak hanya untuk mempelajari pengetahuan, tetapi lebih penting untuk membentuk karakter siswa,” katanya. (Herpin Dewanto)

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 8 Januari 2017, di halaman 10 dengan judul “Menyambung Asa Anak-anak Bima”.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*