SBY Provokasi Lagi, 212 Terancam Rusuh Seperti 411

SBY Provokasi Lagi, 212 Terancam Rusuh Seperti 411

SBY Provokasi Lagi, 212 Terancam Rusuh Seperti 411

RumahNKRI – Menjelang demo 2 Desember, hari ini 28 November SBY kembali melakukan provokasi. Berbeda dengan sebelumnya yang menggelar keterangan pers, kali ini SBY hanya menuliskannya. Dari analisis Pakar Mantan, SBY tidak melakukan keterangan pers seperti sebelumnya untuk menghindari dari serangan bully terhadap dirinya. Hal ini sempat dicurhatkan oleh SBY dalam catatannya:

“Saya masih ingat ketika saya melakukan klarifikasi atas informasi yang sampai ke pusat kekuasaan bahwa seolah Partai Demokrat terlibat dan SBY dituduh membiayai aksi damai 4 November, saya diserang dan dihabisi tanpa ampun.”

Ya, mayoritas rakyat Indonesia membenci SBY karena keterangan persnya lebih banyak bermuatan provokasi, bukan klarifikasi.

Jadi sekarang masuk akal kenapa SBY tak berani menggelar konferensi pers lagi, sebab pasti akan dibully. Sebab apa yang disampaikan SBY juga sama-sama berisi provokasi menjelang 2 Desember. Untuk itu SBY memilih menuliskan catatan dengan harapan tak terlalu dibully, sementara pesan provokaatifnya bisa sampai pada massa militan SBY yang selama ini berada di bawah naungan majelis dzikir. Cerdas sekali, kalau tak mau disebut licik.

SBY kembali memprovokasi dengan menyatakan bahwa apa yang dijanjikan oleh Jokowi dan JK dalam kasus Ahok akan diproses dan diselesaikan secepatnya, dinilai terlambat.

“Nampaknya sudah terlanjur terbangun mistrust (rasa tidak percaya) dari kalangan rakyat terhadap negara, pemimpin dan penegak hukum. Sudah ada trust deficit,” tulis SBY.

Kalimat provokatif ini merupakan tuduhan tidak mendasar yang kemudian dikemas dalam bentuk opini atau klaim. Liciknya, SBY juga terlihat sangat memahami para pendemo yang dikatakannya tidak surut dalam menuntut keadilan (baca: mau demo lagi). Sementara kondisi sosial menurut klaim SBY sudah meningkat.

Dalam tulisan panjang kali lebarnya, SBY tidak sedikitpun punya niat menenangkan masyarakat yang sudah terpovokasi. SBY sama sekali tidak membahas bahwa Ahok sudah jadi tersangka dan meminta rakyat menahan diri atau mempercayakannya pada penegak hukum. Tidak ada.

Hanya sedikit saja disinggung bahwa kita diminta tidak melibatkan dunia internasional dan pelanggaran HAM terhadap Ahok. “biarlah para penegak hukum bekerja secara profesional, adil dan obyektif. Jangan ada pihak yang mengintervensi dan menekan-nekan,” tulis SBY. Pernyataan yang kontra dari sebelumnya karena mengklaim bahwa pendemo tidak surut, tapi kemudian meminta tidak ada intervensi. SBY ini mirip playboy cap kambing, menyatakan cinta pada Isyana tapi pada Jessica mengaku tidak bisa mencintai Isyana. Lihatlah, SBY beropini bahwa pihak pendemo tidak surut dan tetap mau berdemo, tapi di sisi lain mengharap tak ada intervensi. Coba bantu rakyat mengerti, sedikit saja. Sebenarnya SBY maunya apa?

Kalau SBY mau tak ada intervensi hukum, seharusnya opini yang disampaikan adalah mengharap pendemo tidak perlu turun pada 2 Desember nanti. Sebab Ahok sudah jadi tersangka, dan kalau masih ada demo berarti ada upaya intervensi. Bukan malah menggambarkan seolah-olah pendemo pantang mundur apapun yang terjadi. Apalagi mengompori bahwa rakyat sudah tidak percaya dengan Presiden dan penegak hukum, ini jelas perilaku sapi-sapian.

Bagaimanapun, pernyataan SBY ini mungkin biasa saja bagi kita. Sebab sebelumnya lebih provokatif. Sebagai rakyat kita hanya bisa percaya kepada Polri dan TNI bahwa negara ini tidak akan krisis. Tapi bagi Polri dan TNI, catatan SBY ini harus disikapi serius.

Kita harus ingat sebelum 4 November lalu, sebenarnya tensi politik sudah menurun setelah Jokowi mendatangi Prabowo. Namun kemudian memanas lagi setelah SBY memberikan keterangan pers “Sampai lebaran kuda massa tak akan berhenti demo.” Sekarang setelah Ahok dijadikan tersangka, tensi politik juga sudah jauh berkurang. Banyak masyarakat sudah mulai sadar bahwa mereka hanya dimanfaatkan oleh FPI,

Tapi sekarang SBY menuliskan catatan yang tak kalah provokatifnya menjelang 2 Desember. Artinya ada potensi kerusuhan kembali dan pengerahan massa yang dipelopori oleh FPI dan yang secingkrangan dengannya. Potensi itu harus diperhitungkan, jangan sampai lengah. Jika sebelumnya mereka menuntut Presiden Jokowi turun dan mau menduduki Istana serta gedung DPR, 2 Desember nanti ada kemungkinnan upaya-upaya seperti itu lagi.

Polri dan TNI tidak boleh terlalu percaya dengan orang-orang cingkrang. Mereka bilang damai, faktanya usil dan rusuh. Mereka bilang hanya menuntut proses hukum, faktanya mereka mau Jokowi lengser.

Begitulah kura-kura.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*