Tanggapan Terbuka Kelompok Bumi Datar untuk Kepala Lapan

Tanggapan Terbuka Kelompok Bumi Datar untuk Kepala Lapan

RumahNKRI – Komunitas yang meyakini Bumi datar atau disebut Flat Earth masih belum puas dengan penjelasan dari Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, tentang Bumi bulat atau Globe Earth beberapa waktu lalu.

Dalam keterangannya di komentar Facebook Thomas Djamaluddin tersebut, kelompok Bumi datar menantang kepala Lapan untuk kembali menjelaskan secara mendalam teori Bumi bulat.

Kelompok ini menuliskan tanggapan atas diskusi mereka di kantor Lapan, Jakarta Timur, 30 Desember 2016 di forum fe101.freeforums.net. Kelompok ini mengaku penjelasan Thomas Djamaluddin belum menjawab pertanyaan mereka.

Untuk itu, kelompok ini mengeluarkan tanggapan terbuka untuk kepala Lapan yang diunggah anggota forum bernama BossDarling.

Dalam tanggapan terbuka tersebut, kelompok Bumi datar ini membuka dengan menyoroti pernyataan Thomas Djamaluddin yang menyebut teori Bumi datar sebagai dongeng khayalan.

Kelompok tersebut ‘menggugat’ teori bentuk Bumi yang telah diajarkan dalam sebuah sistem. Teori bentuk Bumi yang diyakini banyak orang saat ini membuat semua orang merasa Bumi diam tak bergerak, permukaan air tak pernah melengkung.

“Tapi semua orang diajarkan sejak kecil bahwa Bumi berbentuk bola, berotasi dengan kecepatan 1.670 km/jam, mengelilingi Matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam,” tulis komunitas tersebut dalam tanggapan terbukanya dikutip Senin 9 Januari 2017.

Untuk menutupi kesenjangan itu, tulis kelompok Bumi datar, supaya logis maka diajarkan teori gravitasi yang mendukung Bumi punya daya tarik, sehingga tampak diam tak bergerak. Komunitas ini menyoroti kenapa kurikulum dan sistem dalam pendidikan tak mengajarkan esensi Relativitas Einstein. Padahal, ilmuwan lainnya Isaac Newton, yang dinyatakan telah keliru soal Bumi tak punya daya hisap.

Kelompok ini juga mengkritik rujukan sumber kebenaran untuk teori Bumi bulat yang selama ini memakai foto Computer Generated Imagery (CGI) atau gambar yang dibuat komputer .

Bagi kelompok tersebut, yang diinginkan mereka adalah pembuktian secara saintifik, bukan dengan foto-foto dan teori berdasarkan asumsi.

“Melainkan dengan pengukuran dan eksperimen kuantitaif, bukan kualitatif normatif,” tulis kelompok tersebut.

‘Sains modern’ menurut kelompok Bumi datar, sengaja meninggalkan metode saintifik eksperimen, dan menggantinya dengan berbagai foto CGI yang mudah dimanipulasi.

Selain itu, kelompok ini dalam tanggapan terbukanya menggugat jarak diameter kecepatan Bulan dan Matahari, serta menantang untuk menghitung siklus gerhana.

Let’s make it clean and clear, Pak. Pilih tiga kali periode gerhananya, hitung angkanya, masukkan dalam model software umum yang netral, publikasikan hasilnya. Very simple. Tak perlu bahas soal lain, sebelum ‘soal sederhana’ ini tuntas,” tulis mereka.

Menutup tanggapan terbukanya, kelompok Bumi datar menegaskan, mereka tidak ada niat untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang. Mereka menuliskan, dalam dunia keilmuan, tantangan terbuka yang diajukan adalah untuk mencari kebenaran, bukan bermaksud menjatuhkan.

‘Cocokologi’

Dalam komentarnya di Facebook, Thomas menuliskan di kolom komentar, semua penjelasannya terkait Bumi bulat bukan bermaksud untuk menyadarkan penggemar dongeng Bumi datar. Jika pun mereka yang selama ini meyakini Bumi terbuka pikirannya bahwa selama ini keyakinan mereka salah, maka menurutnya, itu hal yang patut disyukuri.

“Bukan untuk menyadarkan penggemar dongeng FE (kalau bisa syukurlah), tetapi untuk mencegah berkembangnya sikap anti-sains di kalangan anak muda,” ujarnya.

Thomas mengaku tak berminat menanggapi dongeng yang disampaikan kelompok Bumi datar. Namun, dia terdorong untuk memberikan penjelasan agar publik bisa menangkapnya dengan pendekatan yang ilmiah.

“Tetapi saya terdorong untuk memberikan edukasi publik tentang sains, agar orang awam tidak terjebak metode ‘cocokologi’ yang diklaim para penggemar dongeng FE, terutama di serial videonya,” ujar dia melalui pesan tertulisnya.

Thomas mengatakan, sains merupakan akumulasi pemahaman manusia atas alam yang diformulasikan secara bertahap dan terus disempurnakan. Pola ini berbeda dengan yang dikembangkan kelompok Bumi datar.

“Pola pikir ala dongeng FE sama sekali tidak mengandung unsur sains, hanya ‘cocokologi’ alias comot sana-sini, lalu dicocokkan dengan kerangka berpikir FE. Itu berbeda dengan kerangka berpikir sains, yang mengumpulkan data dulu baru kemudian hasil pengolahan data dan analisisnya menghasilkan kesimpulan,” tutur dia.

Dia mengatakan, pengujian yang berulang-ulang atas berbagai hasil penelitian baru menghasilkan teori. Misalnya, teori gravitasi Isaac Newton tetap berlaku, walau konsep generalisasinya disempurnakan oleh teori relativitas umum Albert Einstein.

Atas saran pengguna Facebook yang meminta profesor riset astronomi astrofisika Lapan itu untuk tak melayani permintaan kelompok Bumi datar, bagi Thomas, bukan menjadi soal beradu argumen dengan mereka.

“Enggak masalah. Ini bagian edukasi publik tentang sains. Harus sabar, karena dongeng itu pasti ada batas kedaluwarsanya, sedangkan sains terus berkembang,” ujarnya.

Sumber : viva.co.id

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*